Ada Rapid Test Antigen, Ini Keluhan Kadin Kota Yogyakarta!

- 22 Desember 2020, 17:49 WIB
Tugu Yogyakarta, Revitalisasi Tugu Yogyakarta atau Tugu Pal Putih.
Tugu Yogyakarta, Revitalisasi Tugu Yogyakarta atau Tugu Pal Putih. /Bagus Kurniawan/Twitter @YogyakartaCity/portaljogja.com

Baca Juga: Presiden Jokowi Umumkan Reshuffle Kabinet, ini Daftar Menteri-menterinya

“Momen ini sebenarnya sangat ditunggu-tunggu oleh pelaku usaha. Mereka sudah punya angan-angan tapi kenyataannya tidak sesuai. Pengaruhnya luar biasa. Para pelaku sebenarnya nurut-nurut saja dengan aturan pemerintah, tapi kalau mendadak kan kasihan,” papar dia.

Menurut Aji Karnanto, saat ini pada keadaannya banyak calon pengunjung yang membatalkan agendanya untuk berlibur pada akhir tahun. Oleh karena itu, dirinya berharap para pelaku usaha diberikan ruang atau kesempatan jika kebijakan seperti saat ini harus dijalankan bersama-sama.

“Apalagi sejauh ini sudah banyak yang terverifikasi protokol kesehatan dari pemerintah. Kami pun mendorong agar kebijakan tersebut ditegakkan secara konsisten tanpa memandang bulu,” imbuh dia.

Baca Juga: Jokowi : Yang Lalu Biarlah Berlalu. Unggah Foto Bertuliskan Yang Baru Harus Lebih Baik

Sementara itu Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta Deddy Pranowo Eryono, membenarkan banyak tamu yang membatalkan reservasinya. Terutama untuk libur tahun baru yang tinggal menyisakan lima persen.

“Terutama hotel bintang tiga ke bawah. Mereka sudah berharap bisa menutup biaya operasional di bulan Desember tetapi ternyata zonk,” sambung Deddy.

Deddy mengakui, kebijakan rapid test antigen membuat wisatawan harus berpikir ulang untuk berlibur ke luar daerah. Harganya yang mencapai dua kali lipat lebih dari rapid test antibodi menjadi penyebab utama. Terutama bagi wisatawan keluarga yang harus mengeluarkan dana tambahan yang tidak sedikit.

Baca Juga: Gara-gara Unggahan Rina Nose, Peneliti Kimia Farmasi Bimo Ario Tejo Beri Pesan Menohok

“Kami semua memiliki komitmen untuk mengendalikan lonjakan kasus Covid-19. Tetapi industri pariwisata jangan selalu dikambing hitamkan. Ada demo, ada kerumunan kemudian terjadi lonjakan kasus, tetapi pariwisata yang disalahkan,” tandas Deddy. ***

Halaman:

Editor: Bagus Kurniawan


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x